Retret Ziarah Karya Roh Allah dalam Sejarah Gereja Misi Semakin Mengukuhkan Cinta dan Semangat Pelayanan Para Peserta

 

YA TUHAN, AKU CINTA PADA- MU

Ya Tuhan, aku cinta pada-Mu.

Aku cinta pada-Mu,

bukan lantaran aku mengharapkan surga bagiku,

bukan lantaran kecut hati tersulut kobaran api abadi.

Engkau, Engkau, Yesusku.

-demi Aku- Engkau

Wafat membentangkan tangan,

Menderita tusukan paku,

Tikaman tombak,

Wajah memar,

Sedih pedih hati tak terukur,

Peluh, menanggung keprihatinan dan menyangga beban,

dan akhirnya Engkau mangkat …

ini semua demi aku !

 

Dan Engkau melihat menerawang terang aku berdosa …

Lalu, aku, mengapa aku tak cinta pada-Mu, Yesus,

Jika Engkau sedemikian cinta padaku ?

Bukan lantaran aku ingin meraih surga.

Bukan lantaran aku akan terbebas dari neraka,

Bukan lantaran demi untung yang terkandung.

Melainkan, sebagaimana Engkau cinta padaku,

Akupun cinta pada-Mu dan akan selalu begitu.

 

Demi pamrih apakah, ya Tuhan, aku cinta pada-Mu.

Selain lantaran Engkau adalah Raja dan Allahku.

Amin.

Puisi diatas adalah salah satu ungkapan syukur dan refleksi dari peserta retret ziarah bulan Mei lalu. Perjalanan dari Semarang ke Yogyakarta semakin mengukuhkan iman para peserta dan menambah wawasan sejarah mengenai berdirinya gereja-gereja misi di pulau jawa.

“Saya melihat semangat yang berkobar-kobar karena pengalaman di cintai oleh Tuhan. Kobaran itu sudah merambat … pada saya..”

Peserta retret yang mengatakan kalimat tersebut merasa Allah telah mengobarkan kembali semangat pada dirinya karena kesadaran akan cinta Allah dalam kehidupan selama ini lewat pengalaman-pengalaman sharing bersama para Romo dan rekan-rekan peserta lainnya.

“Mengenang perjalanan retret kali ini saya sungguh2 menerima rahmat yg luar biasa indahnya . Dari mulai diajak bu Lia sampai retret selesai dan diantar pulang ke Magelang oleh romo menjadikan saya sukacita yg luar biasa bahwa saya masih dicintai banyak orang. dari semarang ke Girisonta lanjut Gedono Ambarawa Muntilan Sendangsono dan Yogyakarta membawa saya menjadi lebih dewasa dalam Iman.bertemu dg para romo yg menyerahkan hidupnya untuk dapat menjadi perpanjangan Tuhan yang dengan rela tulus dan iklas mengabdikan dirinya serta berjuang untuk mengalahkan keegoannya adalah pembelajaran bagi saya agar saya dapat mencontoh para imam yg sungguh-sungguh mengabdi untuk Tuhannya”

Para Romo yang mendampingi juga sangat menginspirasi para peserta untuk dapat menghayati semangat pelayanan dan mendalami semangat Santo Ignasius Loyola yang menjadi teladan. Kerelaan dan keikhlasan para Imam memberi teladan bagi para peserta untuk dapat mengabdikan diri bagi sesama dengan panggilan masing-masing demi lebih besarnya kemuliaan Allah.

Pada hari pertama para peserta merasa sangat beruntung untuk dapat mengunjungi salah satu gereja yang menjadi cikal bakal berkembangnya umat Katolik di Jawa yaitu Gereja Gedangan. Sesampainya di Gedangan, Romo Paroki, Rm. Maryono , SJ menyambut para peserta dengan penuh keramah-tamahan dan kemudian menemani para peziarah untuk berkeliling melihat keindaan Gereja. Bersama Rm Smith , SJ para peserta ziarah mendapat cerita mengenai zaman perjuangan para Misionaris untuk mewartakan kerajaan Allah di pulau Jawa yang tak terlepas pula dengan tantangan perbedaan budaya yang harus dihadapi.

“Romo Smith, terima kasih sudah berkenan menerima kami semua dg penuh keramah tamahan. Penjelasan Romo sangat mengesankan dan mengalir, karena saya baru tahu jaman awal Gereja Katolik masuk ke Indonesia, ternyata Gereja Protestan sudah ada terlebih dahulu, dan merupakan bagian dari Kerajaan Belanda, sehingga agar Gereja Katolik bisa masuk ke Indonesia tidak terlepas dari perencanaan strategi yg sangat teliti dan detail, dg pendekatan menyatu dg budaya Jawa, para pastur Belanda mempelajari bahasa Jawa sehingga Romo Van Lith berhasil di Selatan Jawa dan pada waktu jaman kemerdekaan dan clash, dg sangat cerdas Mgr Soegijapranata mengganti semua bahasa Belanda pada liturgi dg bahasa Indonesia, agar tidak menimbulkan kecurigaan dituduh menjadi bagian dari penjajah Belanda.”

Setelah berkeliling gereja Gedangan, para peserta retret bertolak ke Muntilan untuk berziarah di makam para Misionaris dan juga mengunjungi para Romo di Wisma Emmaus, Girisonta. Di paroki Girisonta, Rm Setyodarmono ,SJ menyambut para peserta dan sharing tentang pengalaman beliau selama menjadi Imam, dan juga cerita-cerita bagimana kegiatan beliau mendampingi keluarga-keluarga muda. Romo yang akrab disapa “Romo Nano” juga mengisahkan beberapa perjalanan iman beliau dalam mengimani kehadiran dan kemurahan hati Allah.

“Cerita Romo berkelana tanpa bekal apapun, kecuali pakaian dan alat mandi secukupnya, sangat mengesankan saya, dan saya merasakan Allah hadir dimana kita hanya bisa mengandalkan kekuatan & kemurahan hatiNya. Sekali lagi terima kasih Romo Setyodarmono.”

Gereja Santo Yusup Ambarawa atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Jago menjadi tujuan ziarah selanjutnya. Di Gereja yang terkenal dengan simbol ayam jago di puncak menaranya ini para peserta di sambut oleh Rm. Dwijo ,Sj selaku pastor paroki. Para peserta juga semakin mengerti sejarah gereja misi lewat diskusi bersama Rm. Dwijo mengenai umat yang dulunya hanya orang Belanda kemudian mulai banyak penduduk Indonesia yang mengimani Kristus di Ambarawa.

“Terima kasih Romo Dwijo sudah berkenan menerima kami semua. Setelah Romo menjelaskan, saya baru menyadari  ada jam yg dipasang di 4 penjuru diatap gereja dg puncaknya ada Jago yg arahnya tergantung angin. Padahal tidak terhitungkan saya melewati Gereja Jago setiap saya pulang ke Yogyakarta.”

Sebelum melanjutkan perjalanan ke gereja-gereja di Muntilan dan Yogyakarta, Para peserta Retret juga mengunjungi Seminari Menengah Mertoyudan. Di Seminari inilah cikal bakal para Imam belajar dan juga menerima panggilan Allah untuk menjadi pelayan umat Allah. Disambut oleh Rm Gandi , SJ dan Rm Drajat , SJ. para peserta  terkesan dengan bagaimana para Romo menginterpretasikan arah dasar atau Visi Misi atau kultur Jesuit di semua aspek yang ada mulai dari bangunan dan juga tentunya dalam pengajaran.

Selama di Muntilan para peserta menginap di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, tempat persinggahan para umat dengan suasana yang damai dan asri. Hari pertama di Muntilan, Para Peserta Reter di dampingi oleh Romo Kristiono ,SJ untuk berkunjung ke Gereja Santo Antonius Muntilan dimana banyak tokoh-tokoh misionaris seperti Romo Van Lith dan Romo Hovenaar dulu berkarya.

“Romo Kristiono, terima kasih Romo bersedia menerima kami, dan satu2nya yag menemui kami dg jubah putih Pastur.  Romo menyiapkan data dan cerita dg rapi. Dari Romo saya tahu retret minggu pertama, kedua, ketiga, keempat yang akhirnya kembali kegiatan rutin masing2. Dan Romo menyadarkan Mgr Rubi adalah Uskup ke 6 Pribumi di KAS, juga mengingatkan bahwa 2018 adalah peringatan 100 th Yayasan Kanisius Jawa Tengah. Sejarah sekolah Van Lith yg dirintis Romo Van Lith sendiri, dan sejarah diserahkannya sekolah dari Jesuit ke Bruder OO (sekarang FIC), jadi sekolah imam sudah dimulai jaman tsb, Bapa Kami yang di terjemahkan ke bahasa Jawa halus dengan penambahan kawiyaran serta Romo Van Lith ingin penduduk yang dibaptis mempunyai dasar iman yag kokoh, dan Romo Hovenaar yg hanya menggunakan Bapa Kami yg terjemahannya ke bahasa Jawa biasa, ternyata memberi dampak yang sangat jauh berbeda, Romo Hovenaar juga mendirikan sekolah putri di Mendut. Sehingga menjadikan anak-anak putri di jaman tsb bisa mendapat pendidikan yang memadai”

Selain mengunjungi Gereja Santo Antonius Muntilan para peserta juga berziarah di makam Kerkhof, tempat persemayaman tokoh-tokoh Katolik, termasuk juga Rm. Sanjaya yang wafat dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sekolah Van Lith tak lupa menjadi tempat selanjutnya yang dikunjungi para peserta sebagai karya nyata perjuangan para misionaris di bidang pendidikan.

Di hari selanjutnya di Muntilan, para peserta berziarah ke Gua Maria Sendangsono dan Asrama Putri Mendhut. Kisah sejarah dan juga sharing mengenai kehadiran dan pertolongan Allah disampaikan oleh Rm. Budi Subanar , SJ

 

“Romo Banar satu2nya Romo yg beratribut pakaian seniman. Seperti sosok seniman yang ada di Paris. Saya sungguh merasakan Allah hadir dan penuh pertolongan, waktu Romo bercerita Karya penyelamatan Allah dimulai dari sejarah kelahiran kita masing2”

Di Yogyakarta para peserta mengunjungi karya-karya Jesuit diantaranya PUSKAT dan Universitas Sanata Dharma.  Didampingi oleh Rm. Bagus Laksana ,SJ, Rm Mardikartono ,SJ, Rm Madya Utama ,SJ, Rm Suhardiyanto , SJ, dan Rm Ruki ,SJ. Para Romo di Yogyakarta membagikan tentang karya-karya Jesuit yang sedang berkembang juga sekaligus tantangan-tantangan yang dihadapi. Khususnya untuk karya di bidang pendidikan, tantangan untuk mendidik generasi-generasi muda sehingga dapat tumbuh sebagai manusia yang berilmu, berkepedulian sosial, dan juga berhati nurani yang benar.

Bersama Rm. Iswarahadi para peserta juga didampingi untuk menonton Gala Ignatio dan mengalami Retret media. Retret Media bertempat di Studio Audio Visual (SAV) Yogyakarta. Berikut ini merupakan kesan salah satu peserta mengenai pengalaman berada di SAV dan juga mengalami retret media.

“Di retret media di SAV saya tiba2 mendapatkan ambience yang berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya. Lingkungan tanpa pagar, relief-relief, lukisan-lukisan yang dilihat dan dirasakan menggambarkan beragam agama untuk tujuan kebaikan. Menghormati bumi dan pohon-pohon yg sudah ada, menghormati tetangga-tetangga sekitar yang berbeda agama, mempersilahkan memakai sarana bersama, silaturahmi pada hari pertama Idul Fitri, bagaimana ikatan dengan Para Karyawan SAV, Misa pagi bersama, berkala makan di luar bersama, rekreasi bersama. Dll. Saya belajar banyak dari SAV yang sangat selaras dg memelihara lingkungan, bumi dan  tumbuhan serta manusianya karyawan dan para tetangga. Juga retret yg Romo berikan kepada kami selama 2 hari sangat mendalam.”

Demikian banyak pengalaman-pengalaman berharga yang didapat oleh para peserta. Tiap tempat yang dikunjungi meninggalkan kesan tersendiri yang tentunya membawa pertumbuhan iman dan cinta pada Allah. Akhir kata menyampaikan ucapan terima kasih dari para peserta kepada Rm Rudi , SJ atas pendampingan 7 hari selama berlangsungnya Retret Ziarah dan juga terima kasih atas pengalaman ziarah napak tilas sejarah misi Serikat Jesuit di Indonesia. Semoga Romo-romo semua yang dipilih Tuhan semakin disucikan, diberkati secara istimewa dan selalu sadar akan kasih Allah yang menyertai hidup dan karya Romo semua. Amin. (EAA)