Tubuh Kristus kok dimakan…

557089_298863563520948_100001919196273_743667_145789442_nOmongan soal Tubuh dan Darah Kristus dalam sejarah menimbulkan ketegangan dan kesalahpahaman. Sebagian orang mengidentikkan roti dan anggur sebagai daging dan darah Yesus (entah dari daerah dekat jantungnya, punggungnya, atau pahanya) sendiri. Pemahaman literal ini menyesatkan baik untuk jemaat Katolik maupun non-Katolik. Yang Katolik menganggapnya sebagai hosti dan anggur yang punya kekuatan magis sebagai daging dan darah Kristus setelah dikonsakrir imam, yang non-Katolik menganggapnya sebagai objek kanibalisme (lha iya wong orang makan daging orang).

Kedua kelompok ini menempatkan Tubuh dan Darah Kristus sebagai bahan kajian intelektual. Tubuh dan Darah Kristus diletakkan sebagai objek studi sebagaimana orang mempelajari matematika, ilmu komputer dan ilmu alam pada umumnya. Padahal, Tubuh dan Darah Kristus tentulah sebuah misteri yang jelas melibatkan subjek pengamatnya, sebagaimana orang mengalami cinta: sedikit banyak sikap subjek memengaruhi gagasan mengenai objeknya (tak kenal tak sayang, tak sayang tak kenal). Alih-alih berfokus pada Tubuh dan Darah Kristusnya, orang bisa memahami tindakan “makan” Tubuh Kristus itu.

Dalam pelajaran Biologi ada istilah asimilasi tumbuhan; dalam pelajaran sosiologi pun ada istilah asimilasi sebagai proses peleburan budaya atau pengurangan perbedaan demi kebudayaan bersama; bahkan dalam pelajaran PKn juga dikenal istilah asimilasi sebagai pencampuran harmonis. Pengertian-pengertian ini bisa memperkaya pemahaman mengenai tindakan makan yang sebetulnya jauh lebih kompleks daripada sekadar mengunyah sesuatu dan menelannya hingga masuk ke dalam usus dan lambung. Sehingga, tindakan makan sebetulnya adalah tindakan asimilasi. Apa yang diasimilasi?

image67Dalam bacaan Injil Yohanes menyodorkan pemahaman Yesus Kristus sebagai roti kehidupan yang turun dari Surga, lebih dari sekadar manna sebagai makanan orang Israel pada masa pengungsian yang dibahas dalam bacaan pertama. Nah, roti hidup ini apa maksudnya? Kok kalau orang makan daging dan minum darah-Nya lantas orang mendapat bekal hidup kekal? Teks Yohanes ini memang punya risiko disalahtafsirkan: kanibalisme itu tadi.

Orang bisa terpeleset memahami: hosti jadi daging, dan anggur jadi darah! Memang begitulah yang diajarkan dalam Gereja Katolik. Akan tetapi, ajaran itu tentu perlu dimengerti dalam konteks yang benar: communio. Surat Paulus dalam hal ini lebih membantu daripada teks Injil Yohanes: Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Jelas tidak dikatakan bahwa roti yang kita santap itu adalah tubuh Kristus, tetapi adalah PERSEKUTUAN dengan tubuh Kristus!

Loh, berarti omong kosong dengan perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus dong, Romo?
Di mana omong kosongnya?
Ya berarti roti dan anggur tetap roti dan anggur, kan?
Rupa atau penampakannya memang roti dan anggur, tetapi hakikatnya kemudian menjadi Tubuh dan Darah Kristus karena persekutuan iman kepada Kristus itu sendiri!
Wah, Romo mbingungi!

Kalau bingung ya pegangan to: sewaktu persembahan, imam sudah komat-kamit atau mendaraskan doa supaya roti dan anggur itu nantinya (pada saat konsekrasi) menjadi santapan dan minuman kehidupan. Itu pasti lebih kompleks dari makanan jasmani, bukan?

Yang disasar umat saat menerima Tubuh dan Darah Kristus adalah persekutuan (communio) iman mereka yang percaya pada Kristus. (Maka, ungkapan yang tepat sebetulnya bukan umat menerima komuni, melainkan umat (ber)komuni) Ini adalah tindakan aktif dari makan yang sesungguhnya: mengasimilasi Kristus sebagai sumber kehidupan, mengenakan lifestyle Kristus dalam hidup seseorang.

Oleh karena itu, sikap hormat saat komuni tidak dilandasi oleh anggapan magis terhadap hostinya, tetapi oleh kesadaran manusia rapuh yang hendak bersekutu dengan sumber kehidupan, yang hendak mengamini lifestyle Kristus dengan mengasimilasi nilai-nilai yang ditawarkan-Nya.

Nah, kalau sudah tahu idenya begitu, apa perlunya ikut misa dan maju ke depan menyambut Tubuh dan Darah Kristus itu ya? Iman bukan ideologi, bukan semata kualitas intelektual: itu juga menyentuh indera manusia. Asimilasi lifestyle Kristus oleh manusia rapuh, bukankah nantinya juga mesti tampak dalam wujud jasmani? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu: itulah makna communio, asimilasi lifestyle Kristus dalam kebersamaan. (A. Setyawan SJ)

Sumber Tulisan; Sumber Gambar: Gambar 1, Gambar 2